Beranda blog Halaman 13

Titik Kritis Produk Bakery

Banyak Pilihan Bakery Halal

Hidangan ‘’wajib’’ saat Lebaran ini bahan-bahan pembuatnya rawan. Jangan khawatir, banyak yang sudah lolos pemeriksaan LPPOM MUI.

Produk bakery, adalah produk makanan yang bahan utamanya tepung (umumnya tepung terigu) dan dalam pengolahannya melibatkan proses pemanggangan. Contohnya: roti, biskuit, pie, pastry.

Bahan-bahan (ingredient) pembuat bakery cukup rawan kehalalannya. Inilah titik-titik kritisnya:

Tepung Terigu

Ini bahan utama produk bakery dan kue. Jenis tepung lainnya yang bisa digunakan adalah tepung rye, tepung beras, tepung jagung, dan lain-lain.

Tepung terigu dibuat dari biji gandum yang digiling dan diayak sehingga diperoleh tepung dengan besar partikel tertentu.

Secara garis besar, ada dua jenis tepung gandum yaitu tepung gandum keras (strong flour) dan tepung gandum lunak (soft flour). Tepung gandum keras biasanya digunakan untuk membuat roti dan produk-produk yang dibuat dengan melibatkan proses fermentasi serta puff pastry. Tepung terigu lunak biasanya digunakan untuk membuat biskuit dan kue.

Salah satu bahan aditif/tambahan pada pembuatan tepung gandum yaitu L-sistein. Fungsinya sebagai improving agent (meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang diinginkan). Ia dapat melembutkan gluten (protein utama gandum yang berperan dalam pengembangan adonan yang dibuat dari tepung gandum), sehingga adonan tepung lebih lembut. Sistein juga mengembangkan adonan.

L-sistein murah yang banyak tersedia di pasaran adalah L-sistein yang dibuat dari rambut manusia, khususnya yang dari Cina. Nah, MUI sudah memutuskan, barang semacam ini haram hukumnya bagi umat Islam.

L-sistein dari bulu unggas pun masih dipertanyakan kehalalannya. Jika diperoleh pada waktu hewan masih hidup, maka bisa jadi tidak diperbolehkan. Jika diperoleh dari hewan mati, bagaimana penyembelihannya?

Untungnya sekarang sudah ada L-sistein yang diproduksi secara fermentasi dan boleh digunakan. Memang, harganya lebih mahal (tidak ekonomis). Namun, hampir semua tepung terigu lokal telah mendapatkan sertifikat halal.

Ada pula bahan aditif tepung terigu dengan maksud untuk memperkaya nilai gizinya, biasanya mineral dan vitamin. Agar vitamin A mudah larut dalam produk pangan berair (aqueous) dan tidak mudah rusak selama penyimpanan, biasanya ia ‘’disalut’’. Nah, bahan penyalut yang diragukan kehalalannya adalah gelatin.

Ragi/Yeast (Gist)

Dalam pembuatan roti, ragi/yeast dibutuhkan agar adonan bisa mengembang. Secara komersial ragi/yeast dapat diperoleh dalam 3 bentuk, yaitu compressed yeast, active dry yeast, dan instant active dry yeast. Di super market biasanya yang tersedia adalah yang instant active dry yeast (ragi instan), bisa langsung digunakan, tinggal dimasukkan kedalam adonan.

Semua bentuk ragi, isinya tak hanya yeast tapi juga sejumlah kecil bahan aditif. Dari segi kehalalan bahan aditif inilah yang perlu dicermati kehalalannya. Pada pembuatan compressed yeast sering ditambahkan pengemulsi (emulsifier) yang syubhat.

Bahan aditif yang mungkin ada pada ragi instan adalah bahan anti gumpal (anticaking agent). Bahan-bahan anti gumpal yang syubhat adalah E542 (edible bone phosphate, berasal dari tulang hewan), E 570 (asam stearat) dan E572 (magnesium stearat). Asam stearat dapat berasal dari tanaman atau dari hewan, magnesium stearat dibuat dengan menggunakan bahan dasar asam stearat. Disamping gum atau dekstrin, gelatin kadang digunakan sebagai bahan pengisi pada ragi instan.

Bahan Pengembang

Digunakan dalam pembuatan roti dan kue. Berfungsi untuk menggelembungkan adonan.

Bahan pengembang jenis kedua yaitu apa yang disebut sebagai baking powder yang merupakan campuran antara sodium karbonat (baking soda) dengan asam pengembang (leavening acid). Yang bisa bertindak sebagai asam pengembang adalah umumnya garam fosfat, sodium aluminium fosfat, glukono delta lakton dan cream of tartar.

Dari semua bahan-bahan ini yang tidak boleh digunakan adalah cream of tartar. Cream of tartar sebetulnya adalah garam potasium dari asam tartarat yang diperoleh sebagai hasil samping (hasil ikutan) industri wine (sejenis minuman keras).

Istilah lain dari bahan pengembang adalah bread improver atau cake improver. Di pasaran sudah ada bread improver dan cake improver yang sudah mendapatkan sertifikat halal.

Cake Emulsifier

Digunakan untuk penstabil dan pelembut adonan cake, kadang digunakan pula untuk menghemat penggunaan telur. Di pasaran bahan ini dikenal dengan nama-nama dagang seperti Ovalet, SP, Spontan 88, TBM (istilah jenis cake emulsifier dalam bahasa Jerman), dll.

Status emulsifier secara umum syubhat, karena bisa terbuat dari bahan nabati (tanaman) atau hewani (dari hewan) seperti telah banyak dibahas di rubrik ini sebelumnya. Di samping itu, seringkali di pasaran bahan ini dicampur dengan lemak padat yang tidak jelas dari mana asalnya.

Dough Conditioner

Bahan multifungsi, bisa melembutkan adonan, mengembangkan adonan, mengawetkan, dll. Itulah sebabnya dough conditioner berisi campuran berbagai jenis bahan diantaranya yaitu L-sistein, tepung kedele, asam askorbat, lemak, gula, pengawet, emulsifier dan gipsum. Karenanya, status dough conditioner syubhat.

Shortening

Arti sesungguhnya dari shortening adalah lemak atau campuran yang memiliki sifat plastisitas tertentu sehingga mampu membuat makanan seperti roti dan kueh menjadi lembut. Secara umum shortening berstatus syubhat, kecuali yang sudah diketahui komposisinya dan telah dinyatakan halal oleh yang berwenang. Untungnya, di Indonesia sudah banyak shortening yang diproduksi didalam negeri dan sudah mendapatkan sertifikat halal.

Disamping itu, kita juga harus hati-hati memilih produk bakery dan kue hasil industri dalam negeri karena ditengarai banyak menggunakan bahan-bahan yang belum jelas kehalalannya. Bahan-bahan tersebut antara lain: ovalet, TBM, SP, roombutter, di samping jenis shortening atau lemak.

(nurbowo/milis: halal-baik-enak@yahoogroups.com)

Kosmetika & Kepalsuan

Tampil menarik dan prima adalah dambaan setiap insan. Untuk itu banyak yang mengguna-kan berbagai cara guna mengubah dan memperbaiki penampilan. Salah satu yang menjadi pilihan adalah kosmetika.

Sejarah kosmetika hampir seiring dengan sejarah peradaban manusia. Orang-orang Mesir Kuno telah mengenal berbagai ramuan untuk membuat kulit halus dan awet muda. Demikian juga dengan budaya Cina yang mengenal berbagai bahan alam yang dapat mempercantik dan memperindah wajah. Di Indonesia sendiri masing-masing suku juga memiliki cara dan ramuan khas untuk memperbaiki wajah, kulit dan tubuh manusia. Kita mengenal lulur, ramuan tradisional dan kosmetika alami di berbagai daerah.

Menggunakan kosmetika untuk memperbaiki diri dan fisik seseorang adalah sah-sah saja. Itu adalah suatu kewajaran, asal dilakukan secara wajar dan menggunakan bahan-bahan yang halal. Dalam Islampun kita disunnahkan menggunakan wewangian ketika hendak pergi ke masjid. Ada pula sunnah untuk menggunakan celak pada kelopak mata. Tetapi penggunaan kosmetika untuk tujuan-tujuan di luar kewajaran dapat dikategorikan tabarruj yang dilarang agama. Misalnya dengan mengubah bentuk dasar wajah untuk tujuan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Mencukur alis dan menggantinya dengan pensil adalah salah satu bentuk pengubahan wujud asli wajah manusia yang sebaiknya tidak dilakukan.

Selain itu penggunaan kosmetika yang berlebihan juga dapat mengundang efek-efek kurang baik. Secara sosial kemanusiaan, penggunaan kosmetika yang terlalu tebal justru dapat mengubah makna kosmetika itu sendiri. Bahkan tidak jarang hal itu menjadi bahan tertawaan dan cibiran bibir rang jika tidak pantas lagi buat seseorang. Oleh karena itu dalam menggunakan kosmetika andapun harus berkaca pada batas-batas kewajaran dan norma yang berlaku, jangan hanya berlandaskan tujuan yang tidak jelas.

Di luar fungsi dan tujuan penggunaan kosmetika, hal yang tidak kalah penting adalah bahan baku kosmetika itu sendiri. Benarkah bahan-bahan tersebut berasal dari sesuatu yang halal? Jangan-jangan apa yang dipakai untuk wajah atau kulit itu berasal dari unsur haram atau najis. Kalau sampai terjadi maka bahan haram itu akan menodai diri kita, sehingga tidak dapat bersuci secara sempurna ketika hendak beribadah.

Kemungkinan masuknya bahan haram ini cukup terbuka. Lemak adalah salah satu komponen yang digunakan dalam banyak produk kosmetik. Jika anda menggunakan lipstik untuk memerahkan bibir, maka di dalamnya pasti mengandung unsur lemak sebagai bahan baku. Nah, apakah lemak itu berasal dari yang halal, ataukah berasal dari lemak babi? Itulah yang perlu dikaji lebih lanjut.

Akhir-akhir ini penggunaan bahan-bahan yang diduga haram semakin meningkat. Misalnya kolagen dan plasenta. Kolagen banyak dipakai di berbagai produk kosmetik karena konon dapat mengencangkan kulit dan memperbaiki penampilan wajah. Tahukah anda dari mana kolagen berasal? Bahan ini diekstrak dari protein hewani, yang mungkin dari sapi, ikan, atau mungkin juga dari babi.

Sedangkan plasenta merupakan bahan yang diambil dari plasenta (cadangan makanan bagi bayi), baik dari plasenta hewan maupun plasenta manusia! Sebagai bahan yang kaya nutrisi plasenta memang terbukti mampu memberikan gizi bagi kulit, sehingga memiliki efek encegah penuaan dan menjaga kesegaran kulit. Akan tetapi kalau berasal dari manusia, maka hal itu jelas dilarang oleh agama. Komisi Fatwa MUI telah melarang penggunaan organ tubuh manusia untuk kebutuhan pangan maupun kosmetika. Oleh karena itu penggunaan plasenta untuk memperbaiki wajah dan kulit juga dapat dihukumi haram.

Kini banyak produk kosmetika yang menggunakan bahan-bahan terlarang itu. Para produsennya menawarkan janji kebugaran, kecantikan dan awet muda, hal-hal yang sangat disukai kaum wanita. Oleh karena itu masyarakat berbondong-bondong membeli, meskipun dengan harga yang cukup mahal. Sudah saatnya konsumen muslim mencermati hal itu, jangan hanya tergiur dengan khasiat dan janji yang muluk-muluk, tetapi perhatikan juga aspek kehalalannya. Kecantikan tubuh dapat pudar setiap saat. Penuaan kulit juga merupakan sebuah keniscayaan yang akan dialami semua orang. Tetapi kecantikan akhlak dan budi pekerti jauh lebih abadi ketimbang sekedar kecantikan semu yang diberikan kosmetika, apalagi jika berasal dari bahan-bahan yang tidak halal.

Sumber: Jurnal Halal Maret 2003

ASPARTAM … sampai kapan meracuni anak-anak kita …

ASPARTAM … sampai kapan meracuni anak-anak kita …

Tulisan ini saya copy paste saja dari FB seorang sahabat dokter, yi. dr. Hery Sulistianto. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Hari ini jam 8:05 diambil dari : dranak.blogspot.com

Nyaris 1 juta dolar AS uang riset digelontorkan, sementara lebih dari 1.900 ekor tikus dilibatkan. European Ramazzini Foundation on Oncologyand Enviromental, lembaga riset terkemuka di Italia itu, ingin membuktikan, apakah betul Aspartam sejenis pemanis buatan itu berbahaya bagi kesehatan. Ramazzini tidak keliru. Bahkan, fakta yang mereka kantongi jauh lebih lebih mengerikan ratusan tikus telah siap menunggu ajal.

Aspartam, pemanis non-kalori yang memiliki tingkat kemanisan 200 kali gula itu, membikin tikus-tikus tadi langsung dihajar kanker mematikan.

Riset yang digelar pertengahan 2005 lalu itu membuat Uni Eropa kian yakin dengan keputusan mereka melarang penggunaan pemanis buatan pada produk makanan, jajanan anak-anak, terutama. Jepang, Malaysia, Brunei, Vietnam, langsung mengekor langkah Uni Eropa. Mereka haramkan pula Siklamat, jenis pemanis buatan yang diduga dapat memicu kanker.

Bagaimana Indonesia?

Alih-alih dilarang beredar, produk-produk ini sejak lama menjadi kawan akrab anak-anak SD. Mudah ditemui di warung-warung, bahkan dijajakan secara besar-besaran di supermarket. Survei Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) sepanjang Juni hingga Juli di sejumlah titik di DKI Jakarta membuktikan hal itu. ”Dari 49 sampel yang kami ambil, lebih dari separuhnya mengandung pemanis buatan dalam konsentrasi tinggi” kata Lies Permana Sari. Anggota tim peneliti LKJ itu, kemarin (9/8), membeberkan temuan mereka yang telah dikonfirmasi laboratorium Sucofindo. Disebut berkonsentrasi tinggi, sebab produk ini memuat kadar gula berlipat-lipat.

Selain mengandung gula murni, produk tadi juga ditambah pemanis. Padahal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) jelas-jelas mengatakan, pemanis buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula.

Adapun sampel-sampel yang disisir LKJ meliputi produk jelly, permen, dan minuman. Ini produk jajanan anak-anak. ”Kami sengaja memilih jenis itu,” dia menambahkan. Ada 25 merek jelly, 16 merek minuman serbuk, dan delapan merek permen. Kelebihan zat pemanis ditemukan bukan hanya pada merek-merek tak terkenal, tetapi juga brand-brand (merek) yang sering nongol di layar televisi. Bukan cuma mengandung konsentrasi pemanis tinggi, produk itu juga seperti berupaya menyembunyikan sesuatu. Beberapa produk, seperti Okky Jelly Drink, Okky Bolo Drink, Happydent White, Yulie Jelly, Donna Jelly, Lotte Juicy Fresh, Vidoran Freshdrink, Naturade Gold, dan Mariteh Instant, tidak mencantumkan batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam.

Ini, menurut Lies, menyangkut perkara cukup penting. Riset European Ramazzini Foundation tahun silam membuktikan bahwa pemanis buatan Aspartam berisiko memicu kanker dan leukimia pada tikus percobaan bahkan pada dosis pemberian Aspartam hanya 20mg/kg BB. ”Secara anatomis tikus mirip dengan manusia. Apa yang terjadi tikus amat mungkin terjadi pula pada manusia,” kata dr Nurhasan, anggota tim riset LKJ. Karena itu pencantuman komposisi pemanis pada produk amat penting, sebab ada acceptable daily intake (ADI) atau batas jumlah pemanis yang boleh dikonsumsi seseorang sepanjang hidup. Bahkan, kata dia, jauh-jauh hari riset BPOM pada November-Desember 2002 sudah menunjukkan bahwa konsumsi Siklamat sudah mencapai 240 persen ADI, sementara Sakarin, pemanis buatan pemicu kanker kemih sebanyak 12,2 persen nilai ADI.

Tak pelak, kata Lies, anak-anak merupakan konsumen yang paling rentan terhadap dampak negatif dari pemanis buatan. ”Otak mereka masih berkembang,” terang dia. Beragam riset menunjukkan bahwa pemanis buatan, terutama Aspartam, berpotensi memicu keterbelakangan mentala kibat penumpukan Fenilalanin menjadi Tirosin pada jaringan syaraf. Berbeda dengan tikus, efek dari pemanis buatan pada manusia memang tak mewujud seketika. Ia terus berakumulasi dan akan dipanen setelah si anak beranjak dewasa. ”Karena itu, ini boleh dibilang silent disease,”tutur Lies seraya mengutip riset di Italia yang menunjukkan bahwa sudah ada bukti serangan kanker akibat konsumsi pemanis buatan. Apa alasan produsen menaburi pemanis makanan? Sulit dipungkiri, terang Lies, ini terkait dengan upaya mereduksi ongkos produksi.

”Kalau dengan sedikit pemanis saja sudah bisa menggantikan konsentrasi gula, kenapa tidak dipakai?,” kata Lies seraya mengatakan bahwa Aspartam, Sakarin, dan Siklamat memiliki tingkat kemanisan dari 30 hingga 300 kali gula. Menurut tim LKJ, As’ad Nugroho, BPOM hingga saat ini berkeras pemanis buatan masih aman dikonsumsi umum asalkan memenuhi komposisi. Apalagi ada 50 negara yang masih memperbolehkan meski soal aman tidaknya pemanis buatan masih diperdebatkan hingga detik ini. Pada kenyataannya, terang dia, soal komposisi aman ini banyak produsen yang membandel.”Saat minta izin BPOM, mereka memberikan produk yang komposisinya tepat. Ke pasar, mereka meluncurkan produk yang lain,” kata dia.

note : tulisan ini dipublish tahun 2006, meski sudah lama .. semoga ini menambah pengetahuan kita agar tidak mengkonsumsi produk yang mengandung Aspartam maupun pemanis buatan lainnya…apalagi untuk anak2 kita…

Pengertian Halal dan Haram Menurut Ajaran Islam (II)

V. Hal-hal yang dijumpai di lapangan

  1. Berdasarkan pengalaman di Bali, ada sementara pihak yang menganggap bahwa sertifikat halal itu bernuansa SARA, hal ini memerlukan penjelasan yang baik.
  2. Dalam agama Islam ada ketentuan yang mengatur dalam hal makanan dan minuman yang harus dipatuhi oleh pemeluknya.
  3. Karena kemajemukan masyarakat, timbullah masalah bahwa makanan olahan yang dipasarkan di tengah masyarakat tidak seluruhnya memenuhi ketentuan halal seperti yang ditentukan olah agama Islam.
  4. Yang sering terjadi dalam masyarakat, dann yang menyebabkan ketersinggungan umat Islam adalah adanya sementara pihak yang menyatakan bahwa produk atau hasil olahannya halal bahkan ada yang menyatakan ”halal 100%”, ”Halal 101%”, menurut pengertiannya sendiri tanpa melalui pertimbangan pihak yang benar-benar mengerti dalam masalah ini.
  5. Dalam agama Islam hanya ada ketentuan:
    1. Halal
    2. Tidak halal
    3. Diragukan kehalalannya
  6. Tidak ada ketentuan halal 100%, 75%, 50%, dst. Kalau ada yang menyatakan demikian karena tidak mengertinya, adalah tidak benar.
  7. Dalam hal makanan yang sudah jelas halal, tidak ada masalah, begitu juga makanan dan minuman yang tidak halal, juga tidak ada masalah. Orang Islam yang taat tidak akan mengkonsumsinya.
  8. Yang menjadi masalah adalah makanan dan minuman yang diragukan kehalalannya. Dalam hal ini perlu ada kerjasama antara pihak pengolah dan pemasar hasil suatu produk makanan dan minuman dengan pihak yang benar-benar mengerti tentang ketentuan halal, dalam hal ini MUI, supaya tidak menimbulkan keraguan bagi konsumen muslim untuk mengkonsumsinya.
  9. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang diragukan kehalalannya dapat menimbulkan perasaan tidak tenang bagi seorang muslim yang taat dalam beragama.

IV. Tinjauan dari Sudut Teknologi

  1. Pada jaman Rasulullah, yaitu pada jaman Nabi Muhammad SAW diutus tuhan menyampaikan ajaran agama Islam kepada manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia masih sangat sederhana. Pergaulan dan mobilitas manusia masih terbatas.
  2. Pada jaman sekarang, mobilitas manusia sudah mengglobal. Teknologi berbagai produk, termasuk produk makanan sudah terlalu canggih, baik alat untuk mengolahnya maupun bahan dan cara memprosesnya.
  3. Bahan baku, bumbu dan bahan penolong untuk memproduksi makanan olahan diperoleh dari berbagai sumber asal usulnya. Teknologi pengolahan pun sudha sangat canggih. Bahan baku sudah banyak diperoleh dari impor, termasuk daging atau bahan hewani lainnya yang tidak jelas asal dan cara penyembelihannya. Bumbu dan bahan penolong sudah banyak yang hasil olahan secara kimiawi, berupa instan turunan daru bahan haram atau paling tidak tercemar bahan haram.
  4. Karena bahan yang diolah dan cara pengolahannya ditangani oleh berbagai pihak termasuk pihak yang tidak mengerti ketentuan halal yang harus dipenuhi sesuai dengan ketentuan agama Islam, maka diperlukan adanya kerjasama antara pihak produsen dengan pihak yang mengerti ketentuan halal ini, dalam hal ini MUI, agar hasil produknya tidak menimbulkan keraguan konsumen muslim. Dengan tidak diragukan oleh konsumen muslim, diharapkan akan dapat merebut pasar lebih luas, mampu bersaing dipasaran bebas, karena sebagian besar konsumen di Indonesia adalah orang muslim.
  5. Lebih jauh dengan sertifikat halal, produknya akan merebut pasar yang lebih luas di pasar bebas secara global, menembus pasar di negara-negara yang berpenduduk muslim.

VII. Cara memperoleh Sertifikat dan Label Halal

  1. Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang pangan, masalah makanan halal tercantum dalam pasal 30, ayat 2, butir (e).
  2. Cara memperoleh Sertifikat Halal dalam undang-undang tersebut menjadi satu paket dengan cara memperoleh label pangan. Dalam label pangan tersebut sekaligus tercantum:
    1. Nama produk
    2. Daftar bahan yang digunakan
    3. Berat/isi bersih
    4. Nama dan alamat produsen/pengimpor
    5. Keterangan tentang halal
    6. Tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa
  3. Urut-urutan prosedurnya:
    1. Perusahaan mengajukan permohonan label pangan kepada Badan POM
    2. Badan POM, Departemen Agama (Kementerian Agama) dan MUI dalam satu tim melakukan audit ke perusahaan pemohon
    3. Bila dalam audit masih ditemukan hal-hal yang belum memenuhi ketentuan, pemohon wajib melengkapi dan memperbaikinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan disepakati.
    4. Bila semua telah memenuhi ketentuan, maka selanjutnya MUI menerbitkan Sertifikat Halalnya dan Badan POM menerbitkan label pangan setelah perusahaan memperoleh Sertifikat Halal
    5. RPH (Rumah Potong Hewan) yang diselenggarakan Pemerintah mengacu pada Keputusan Komisi Fatwa MUI, Nomor: B-776/MUI/X/1990 tanggal: 10 Oktober 1990 dan SK Menteri Pertanian Nomor: 413/Kpts/TN.310/7/1992, tanggal 25 Juli 1992 harus dilaksanakan seusai dengan ketentuan Halal secara Islam.
    6. Khusus RPH Pesanggaran Denpasar telah dalam pantauan MUI Propinsi Bali, dan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan tersebut diatas.

(Disampaikan dalam pembukaan ”Pelatihan Intern Sertifikasi Halal, LPPOM MUI Propinsi Bali Masa Bakti 2005 – 2010 di Denpasar, 29 Januari 2006 di Gedung MUI Propinsi Bali)

Pengertian Halal dan Haram Menurut Ajaran Islam (I)

Oleh: H. Sunhadji Rofi’i, Ketua LPPOM MUI

Hai Manusia, makanlah dari apa yang terdapat di bumi, yang halal dan yang thoyyib. Dan janganlah kamu menuruti jejak setan (yang suka melanggar atau melampaui batas). Sesungguhnya setan itu adalah musuh kamu yang nyata. (QS 2:168)
Diharamkan bagi kamu sekalian bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan tidak atas nama Allah, binatang yang tercekik, yang dipukul, yang terjatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas kecuali kamu sempat menyembelihnya, dan diharamkan juga bagimu binatang yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala. (QS 5:3)

Halal artinya dibenarkan. Lawannya haram artinya dilarang, atau tidak dibenarkan menurut syariat Islam. Sedangkan thoyyib artinya bermutu dan tidak membahayakan kesehatan.

Kita diharuskan makan makanan yang halal dan thoyyib, artinya kita harus makan makanan yang sesuai dengan tuntunan agama dan bermutu, tidak merusak kesehatan.

Dalam ajaran Islam, semua jenis makanan dan minuman pada dasarnya adalah halal, kecuali hanya beberapa saja yang diharamkan. Yang haram itupun menjadi halal bila dalam keadaan darurat. Sebaliknya, yang halal pun bisa menjadi haram bila dikonsumsi melampaui batas.

Pengertian halal dan haram ini sesungguhnya bukan hanya menyangkut kepada masalah makanan dan minuman saja, tetapi juga menyangkut perbuatan. Jadi ada perbuatan yang dihalalkan, ada pula perbuatan yang diharamkan.

Pengertian makanan dan minuman yang halal meliputi:

  1. Halal secara zatnya
  2. Halal cara memprosesnya
  3. Halal cara memperolehnya, dan
  4. Minuman yang tidak halal

I. Makanan yang halal secara zatnya

Allah Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Terlalu banyak bahkan hampir semua jenis makanan adalah halal dan dapat dikonsumsi. Sebaliknya terlalu sedikit jenis makanan yang diharamkan yang tidak boleh dikonsumsi. Hikmah pelarangan tersebut jelas Allah yang Maha Mengetahui. Adapun kebaikan dari adanya larangan tersebut jelas untuk kepentingan dan kebaikan bagi manusia itu sendiri. Di antaranya, sebagai penguji ketaatannya secara rohaniah melalui makanan dan minumannya dan agar manusia tahu/mau bersyukur.

Bangkai, darah dan babi secara tegas diharamkan oleh Allah, sesuai dengan ayat diatas. Selanjutnya semua binatang yang mati tidak melalui proses penyembelihan hukumnya haram, disamakan dengan bangkai. Termasuk binatang yang mati dalam pengangkutan sekalipun baru sebentar, tidka boleh ikut disembelih dan dikonsumsi oleh manusia.

II. Makanan yang halal menurut cara prosesnya

Makanan yang halal tetapi bila diproses dengan cara yang tidak halal, maka menjadi haram. Memproses secara tidak halal itu bila dilakukan:

  1. Penyembelihan hewan yang tidak dilakukan oleh seorang muslim, dengan tidak menyebut atas nama Allah dan menggunakan pisau yang tajam.
  2. Penyembelihan hewan yang jelas-jelas diperuntukkan atau dipersembahkan kepada berhala (sesaji).
  3. Karena darah itu diharamkan, maka dalam penyembelihan, darah hewan yang disembelih harus keluar secara tuntas, dan urat nadi lehar dan saluran nafasnya harus putus dan harus dilakukan secara santun, menggunakan pisau yang tajam.
  4. Daging hewan yang halal tercemar oleh zat haram atau tidak halal menjadi tidak halal. Pengertian tercemar disini bisa melalui tercampurnya dengan bahan tidak halal, berupa bahan baku, bumbu atau bahan penolong lainnya. Bisa juga karena tidak terpisahnya tempat dan alat yang digunakan memproses bahan tidak halal.
  5. Adapun ikan baik yang hidup di air tawar maupun yang hidup di air laut semuanya halal, walaupun tanpa disembelih, termasuk semua jenis hewan yang hidup di dalam air.
  6. Selain yang tersebut diatas, ada beberapa jenis binatang yang diharamkan oleh sementara pendapat ulama namun dasarnya masih mengundang perbedaan pendapat.

III. Halal cara memperolehnya

Seorang muslim yang taat sangat memperhatikan makanan yang dikonsumsinya. Islam memberikan tuntunan agar orang Islam hanya makan dan minum yang halal dan thoyyib, artinya makanan yang sehat secara spiritual dan higienis.

Mengkonsumsi makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal berarti tidak halal secara spiritual akan sangat berpengaruh negatif terhadap kehidupan spiritual seseorang. Darah yang mengalir dalam tubuhnya menjadi sangar, sulit memperoleh ketenangan, hidupnya menjadi beringas, tidak pernah mengenal puas, tidak pernah tahu bersyukur, ibadah dan doanya sulit diterima oleh Tuhan.

IV. Minuman yang tidak halal

Semua jenis minuman yang memabukkan adalah haram. Termasuk minuman yang tercemar oleh zat yang memabukkan atau bahan yang tidak halal. Yang banyak beredar sekarang berupa minuman beralkohol.

Kebiasaan mabuk dengan minum minuman keras itu rupanya sudah ada sejak lama dan menjadi kebiasaan oleh hampir semua bangsa didunia. Pada jaman nabi Muhammad SAW, masyarakat Arab juga mempunyai kebiasaan ini. Nabi memberantas kebiasaan jelek ini secara bertahap.

Pertama, melarang orang melakukan sholat selagi masih mabuk (QS 4:34). Berikutnya menyatakan bahwa khamar atau minuman keras itu dosanya atau kejelekannya lebih besar dari manfaatnya atau kebaikannya (QS 2:219). Terakhir baru larangan secara tegas, menyatakan bahwa minuman keras itu adalah perbuatan keji, sebagai perbuatan setan, karena itu supaya benar-benar dijauhi (QS 5:90)

Insya Allah bersambung..

Pola Makan Rasulullah saw

sumber foto: www.dreamstime.com

dari sepenggal cerita Prof. Dr. Mushtopa Romadlon

 

Dalam setiap aktifitas dan pola hidupnya, Rasulullah memang sudah disiapkan untuk menjadi contoh teladan bagi semua manusia., termasuk dalam hal pola makan.  Memang sih, hanya urusan makanan. Tetapi kalau dengan pola makan tersebut, Rasulullah kemudian memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan sanggup mengalahkan para pegulat, tampaknya kita harus mikir lagi untuk mengatakan hanya. Ini bukan perkara remeh. Sebab salah satu faktor penting penunjang fisik prima Rasulullah adalah kecerdasan beliau dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsi.

Selama ini kita mengenal dua bentuk pengobatan. Pengobatan sebelum terjangkit penyakit/pencegahan (at thib al wiqo‘i), dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al ‘ilaji). Nah, dengan mencontoh pola makan Rasulullah, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza‘). Ini tentu jauh lebih baik daripada kita harus “berhubungan” dengan obat-obat kimia.

Hal pertama yang menjadi menu keseharian Rasulullah adalah udara segar di subuh hari. Sudah umum di ketahui bahwa udara pagi kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain. Ini ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktifitasnya selama sehari penuh. Maka tidak usah heran ketika kita tidak bangun di subuh hari, kita menjadi terasa begitu malas untuk beraktifitas. Selanjutnya rasulullah menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya.

Lepas dari subuh, Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luar biasa. Dalam Al-Qur‘an, kata syifa/kesembuhan, yang dihasilkan oleh madu, diungkapkan dengan isim nakiroh, yang berarti umum, menyeluruh. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu befungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan. Dalam istilah orang arab, madu dikenal dengan ‘al hafidz al amin’, karena bisa menyembuhkan luka bakar.

Masuk waktu dluha, Rasulullah selalu makan tujuh butir kurma ajwa‘/matang. Sabda beliau, barang siapa yang makan tujuh butir korma, maka akan terlindungi dari racun. Dan ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah dalam sebuah percobaan pembunuhan di Perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisasi oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Bisyir ibnu al Barra‘, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut, akhirnya meninggal. Tetapi Rasulullah selamat. Apa rahasianya? Tujuh butir kurma!

Dalam sebuah penelitian di Mesir, penyakit kanker ternyata tidak menyebar ke daerah-daerah yang penduduknya banyak mengkonsumsi kurma. Belakangan terbukti bahwa kurma memiliki zat-zat yang bisa mematikan sel-sel kanker. Maka tidak perlu heran kalau Allah menyuruh Maryam ra, untuk makan kurma disaat kehamilannya. Sebab memang itu bagus untuk kesehatan janin.

Dahulu, Rasulullah selalu berbuka puasa dengan segelas susu dan korma, kemudian sholat maghrib. Kedua jenis makanan itu kaya dengan glukosa, sehingga langsung menggantikan zat-zat gula yang kering setelah seharian berpuasa. Glukosa itu sudah cukup mengenyangkan, sehingga setelah sholat maghrib, tidak akan berlebihan apabila bermaksud untuk makan lagi.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah selanjutnya adalah cuka dan minyak zaitun.  Tentu saja bukan cuma cuka dan minyak zaitunnya saja, tetapi dikonsumsi dengan makanan pokok, seperti roti misalnya. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang dan kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan memperlancar pencernaan. Ia juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.

Ada kisah menarik sehubungan dengan buah tin dan zaitun, yang Allah bersumpah dengan keduanya. Dalam Al-Quran, kata “at tin” hanya ada satu kali, sedangkan kata “az zaytun” di ulang sampai tujuh kali. Seorang ahli kemudian melakukan penelitian, yang kesimpulannya, jika zat-zat yang terkandung dalam tin dan zaitun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1:7, maka akan menghasilkan “ahsni taqwim”, atau tubuh yang sempurna, sebagaimana tercantum dalam surat at tin. Subhanallah! Syaikh Ahmad Yasin adalah salah seorang yang rutin mengkonsumsi jenis makanan ini, sehingga wajarlah beliau tetap sehat, kuat dan begitu menggentarkan para Yahudi, meskipun lumpuh sejak kecil. Kalau saja beliau tidak lumpuh, barangkali sudah habis para Yahudi Israel itu.

Di malam hari, menu utama Rasulullah adalah sayur-sayuran. Beberapa riwayat mengatakan, belaiau selalu mengkonsumsi sana al makki dan sanut. Anda kenal nama tersebut? Di Mesir, kata Dr. Musthofa, keduanya mirip dengan sabbath dan ba‘dunis. Masih tidak kenal juga? Dr. Musthofa kemudian menjelaskan, secara umum sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu memperkuat daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Jadi, asalkan namanya sayuran, sepanjang itu halal, Insya Allah bergizi tinggi. Maka, para penggemar kangkung dan bayam tidak usah panik.

Disamping menu wajib di atas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya. Di antaranya tsarid, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Jadi ya kira-kira seperti bubur ayam begitulah. Kemudian beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu manis, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula. Kemudian beliau juga senang makan anggur dan hilbah.

Sekarang masuk pada tata cara mengkonsumsinya. Ini tidak kalah pentingnya dengan pemilihan menu. Sebab setinggi apapun gizinya, kalau pola konsumsinya tidak teratur, akan buruk juga akibatnya. Yang paling penting adalah menghindari isrof, atau berlebihan. Kata Rasulullah, “cukuplah bagi manusia itu beberapa suap makanan, kalaupun harus makan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya” (Al-Hadits). Ketika seseorang terlalu banyak makanannya, maka lambungnya akan penuh dan pernafasannya tidak bagus, sehingga zat-zat yang terkandung dalam makanan tersebut menjadi tidak berfungsi dengan baik. Imbasnya, kondisi fisik menjadi tidak prima, dan aktifitas pun tidak akan maksimal. Dr. Musthofa menekankan bahwa assyab‘u, yang berarti kenyang itu bukan al imtila‘, atau memenuhi. Tetapi kenyang adalah tercukupinya tubuh oleh zat-zat yang dibutuhkannya, sesuai dengan proporsi dan ukurannya. Jadi ini penting; jangan kekenyangan!

Kemudian Rasulullah juga melarang untuk idkhol at thoam alatthoam, alias makan lagi sesudah kenyang. Suatu hari, di masa setelah wafatnya rasulullah, para sahabat mengunjungi Aisyah ra. Waktu itu daulah islamiyah sudah sedemikian luas dan makmur. Lalu, sambil menunggu Aisyah ra, para sahabat, yang sudah menjadi orang-orang kaya, saling bercerita tentang menu makanan mereka yang meningkat dan bermacam-macam. Aisyah ra, yang mendengar hal itu tiba-tiba menangis. “apa yang membuatmu menangis, wahai bunda?” tanya para sahabat. Aisyah ra lalu menjawab, “dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”. Dan penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya berjenis-jenis makanan dalam perut telah melahirkan bermacam-macam penyakit. Maka sebaiknya jangan gampang tergoda untuk makan lagi, kalau sudah yakin bahwa anda sudah kenyang.

Selanjutnya, Rasulullah tidak makan dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan yang dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan dan daging dalam satu waktu dan juga tidak langsung tidur setelah makan malam, karena tidak baik bagi jantung. Beliau juga meminimalkan dalam mengkonsumsi daging, sebab terlalu banyak daging akan berakibat buruk pada persendian dan ginjal. Pesan Umar ra “ Jangan kau jadikan perutmu sebagai kuburan bagi hewan-hewan ternak!”.

Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=387683&page=2

- Iklan layanan masyarakat -

Berita Terbaru

Terpopuler